Peer Teaching: First Gate to Teach English to young Learners

Lesson kali ini mengulas tentang peer teaching dan kompetensi pengajar bahasa Inggrus untuk pelajar pemula.

Peer teaching merupakan aktivitas yang berpusat pada mahasiswa (learner-centered) yang dimaksudkan untuk menunjang pengetahuan, kemampuan dan metakognisi (Parr, dkk., 20041). Selain itu, terdapat beberapa manfaat lain dari peer teaching yang diungkap dalam literatur akademik, antara lain: meningkatkan motivasi (Biggs, 19992; Dobos et al., 19993), meningkatkan kemampuan kognitif dalam belajar (Bennett et al., 19964; Biggs, 19992; Dobos et al., 19993), dan meningkatkan kemampuan belajar mandiri serta tanggung jawab dalam belajar (Dart, 1994; Bruffee, 1999).

Metode Peer Teaching

Secara umum, istilah "metode" (dari bahasa Yunani: "methodos") secara sederhana merujuk kepada cara dan upaya yang dilakukan untuk mencapai sebuah tujuan. Dalam domain pembelajaran (belajar & mengajar), tujuan merujuk kepada upaya yang dilakukan instruktur/fasilitator untuk membantu peserta didik dalam mencapai course objectives atau tujuan pembelajaran.

Terdapat 5 metode yang lazim digunakan dalam peer teaching (Brady, dkk., 20035), masing-masing:

  • Lecture
  • Group discussion
  • Hands-on experiences
  • Hybrid/Blended: metode hybrid/blended merujuk kepada kombinasi dari ketiga metode sebelumnya (lecture, group discussion dan/atau hands-on experiences).
  • Course coordination approach

Berikut pembahasan pelaksanaan masing-masing metode diatas.

Lecture

Dalam pelaksanaan peer teaching secara online, disarankan agar peer teaching dilakukan dengan mempertimbangkan aspek-aspek yang dapat merangsang peserta didik untuk aktif dalam pembelajaran. Studi yang mengkaji efektivitas belajar & mengajar secara online mengemukakan bahwa peer teaching secara daring (online) membuat pelajar menjadi lebih pasif dalam belajar (Roberts dkk., 2020[^Roberts2020]). Hal tersebut menegaskan bahwa diperlukan upaya yang inovatif dalam pelaksanaan peer teaching secara online.

Dalam pembelajaran grammar, instruktur dapat menjelaskan materi melalui media pembelajaran seperti Zoom Meeting, Cisco Webex atau Google Meet dengan menginstruksikan peserta didik untuk mengaktifkan kamera selama pembelajaran berlangsung dengan tujuan agar instruktur dapat memantau peserta didik secara visual. Sebagai tambahan, instruktur juga dapat melempar pertanyaan secara berkala kepada peserta didik dengan tujuan untuk memastikan perhatian peserta didik agar tetap fokus pada materi yang dibahas.

Selain sebagai fasilitator, instruktur juga berperan sebagai sumber pengetahuan. Olehnya, metode lecture (ceramah) tetap penting untuk dipertimbangkan.

Group Discussion (GD)

Melalui metode ini, instruktur menginstruksikan peserta didik untuk membentuk kelompok diskusi (group discussion) dan memberikan beban materi kepada masing-masing kelompok yang terbentuk untuk mempelajari, memahami dan menjelaskan/mempresentasikan materi yang dibebankan.

Dalam pembelajaran bahasa Inggris yang fokus kepada basic conversation (percakapan dasar) misalnya, instruktur dapat menginstruksikan peserta didik untuk membentuk kelompok kecil dimana masing-masing kelompok diberikan tema/topik misalnya (1) in the library; (2) in the headmaster's office; atau (3) in the canteen. Peserta didik diberikan waktu beberapa menit untuk menyusun percakapan yang nantinya akan dipraktekkan/dipresentasikan secara role play (bermain peran). Dalam skenario seperti ini, instruktur harus memastikan bahwa tema/topik yang diberikan tidak jauh melebihi level pesera didik.

Hands-on Experiences (Experiential Learning)

Secara sederhana, hands-on experiences merujuk kepada model pembelajaran yang mengharuskan peserta didik melakukan langsung atau memperagakan materi yang sedang dipelajari (learning by doing/experiential learning) (Bang-Jensen, 19956).

Sebagai contoh skenario pelaksanaan hadns-on experience, dalam pembelajaran reading dan writing, instruktur dapat menginstuksikan peserta didik untuk membuat sebuah produk sederhana (misalnya: cara menyeduh teh) kemudian menginstruksikan peserta didik untuk membuat procedural text atau teks yang menginformasikan langkah-langkah membuat sesuatu. Tugas akhir peserta didik nantinya adalah berupa produk dan procedural text.

Hybrid/Blended

Istilah hybrid atau blended dalam hal ini merujuk kepada kombinasi dari metode sebelumnya diatas. Dalam pelaksanaannya, instuktur dapat menggunakan kombinasi dari metode lecture dengan group discussion, lecture dengan hands-on experiences, group discussion dengan hands-on experiences atau kombinasi dari ketiga metode diatas.

Course Coordination Approach

Metode ini memanfaatkan pendekatan (approach) dimana instruktur berperan sebagai kordinator/fasilitator dalam kegiatan belajar mengajar. Dalam pelaksanaan metode ini, instruktur berperan untuk mengawasi pelaksanaan proses belajar-mengajar dan memastikan proses belajar-mengajar terus berjalan.

Dalam pembelajaran

Peer Review of Teaching

Peer review of teaching merujuk pada situasi dimana seorang mahasiswa berperan sebagai instruktur (guru/dosen/pengajar) terhadap seluruh koleganya (rekan sesama mahasiswa). Dalam hal ini, para kolega bertindak sebagai evaluator atas strategi, metode, pendekatan dan proses mengajar yang dilakukan.

Rubrik Evaluasi Peer Teaching

Berikut ini rubrik evaluasi untuk reviewer. Rubrik berikut diadaptasi dari instrumen pengamatan peer teaching PLPG7.

Aspects Evaluated Unsatisfactory (Score: 1) Satisfactory (Score: 2) Excellent (Score: 3)
1 Apersepsi & Motivasi
(a) Menyampaikan tujuan dan manfaat pembelajaran
(b) Menyampaikan kompetensi yang akan dicapai peserta didik setelah mengikuti pembelajaran
(c) Menyampaikan rencana kegiatan
(d) Menjelaskan kompetensi yang akan dicapai peserta didik setelah mengikuti pembelajaran
(e) Menjelaskan kaitan antara materi yang dipelajari dengan materi yang telah dipelajari
2 Penguasaan Materi
(a) Kemampuan menyesuaikan materi dengan tujuan serta manfaat pembelajaran
(b) Memberikan contoh-contoh yang relevan dan dapat diaplikasikan didalam kehidupan sehari-hari
3 Penyajian Materi
(a) Menyajikan materi secara terstruktur dan tersistematis
(b) Penyajian pembelajaran sesuai tema
(c) Menyajikan pembelajaran yang bernuansa aktif dan menyenangkan
4 Penerapan Strategi Pembelajaran
(a) Menyampaikan tujuan dan manfaat pembelajaran
(b) Mendemonstrasikan sesuatu terkait tema/topik yang akan dipelajari
(c) Menyampaikan kompetensi yang akan dicapai peserta didik setelah mengikuti pembelajaran
(d) Menyampaikan rencana kegiatan
5 Media Pembelajaran
(a) Menunjukkan keterampilan dalam penggunaan sumber belajar
(b) Menunjukkan keterampilan dalam penggunaan media pembelajaran
(c) Melibatkan peserta didik dalam pemanfaatan sumber pembelajaran
(d) Melibatkan peserta didik dalam pemanfaatan media pembelajaran
6 Pelibatan Peserta Didik dalam Pembelajaran
(a) Menumbuhkan partisipasi aktif peserta didik melalui interaksi guru, peserta didik, sumber belajar
(b) Merespon partisipasi peserta didik
(c) Menunjukkan sikap terbuka terhadap respons peserta didik
(d) Menunjukkan hubungan antar-pribadi yang kondusif
(e) Menumbuhkan keceriaan atau antusiasme peserta didik dalam belajar
(f) Menggunakan bahasa lisan secara jelas dan lancar
(g) Menggunakan bahasa tulis yang baik dan benar
7 Penutup
(a) Melakukan refleksi atau membuat rangkuman materi dengan melibatkan peserta didik
(b) Mengumpulkan tugas yang diberikan pada pertemuan sebelumnya
(c) Melaksanakan tindak lanjut dengan memberikan arahan kegiatan berikutnya atau tugas pengayaan

Kompetensi Pengajar Bahasa Inggris

Tabel berikut merepresentasikan kompetensi yang harus dimiliki oleh pengajar bahasa Inggris untuk pelajar pemula (young learners)8.

No. Competence
1. Give simple instructions while teaching young learners
2. Use gestures, facial expressions and body language effectively in instruction
3. Use effective materials appropriate for young learners
4. Implement their teaching taking into account the characteristics of children’s development (physical and cognitive)
5. Interpret, adapt, and supplement textbooks
6. Teach English appropriate to language level of students
7. Implement their teaching actively and energetically
8. Use mostly visual materials
9. Alter content of lesson according to children’s wants and needs
10. Implement techniques for teaching English to young learners
11. Use games in teaching
12. Manage the classroom by gaining the attention of the class
13. Know the appropriate techniques and methods to teach English vocabulary to children
14. Have good English pronunciation skills
15. Differentiate between children with different personality traits and learning styles
16. Develop children’s English language awareness
17. Know child psychology
18. Use drama, demonstration, simulation and acting out in teaching
19. Know how each language skill (reading, writing, listening, speaking) can be developed in young learners
20. Use mainly kinaesthetic activities
21. Design a variety of practical teaching materials
22. Know how to correct language errors of children
23. Implement methods to teach English to young learners (CLT, Audio-lingual, Total Physical Response etc.)
24. Differentiate between children who have different developmental features
25. Focus on teaching listening and speaking
26. Know the characteristics of children’s first language development
27. Manage class time effectively
28. Know the stages of children’s language learning
29. Possess a high level of competence in English (reading, writing, speaking, listening)

  1. Parr, G., Wilson, J., Godinho, S., & Longaretti, L. (2004). Improving pre‐service teacher learning through peer teaching: process, people and product1. Mentoring & Tutoring: Partnership in Learning, 12(2), 187–203. doi:10.1080/1361126042000239938. ↩︎

  2. Biggs, J. (1999) Teaching for quality learning at university (Buckingham, Society for Research into Higher Education and Open University Press) ↩︎ ↩︎

  3. Dobos, M., Grinpukel, S., Rumble, B. & McNaught, C. (1999) Learning biochemistry in peer groups facilitates and enhances student understanding, in: Cornerstones: what do we value in higher education? Proceedings, July 12-15, Melbourne (Canberra, Higher Education Research and Development Society of Australasia) ↩︎ ↩︎

  4. Bennett, C., Foreman-Peck, L. & Higgins, C. (1996) Researching into teaching methods in colleges and universities (London, Kogan Page) ↩︎

  5. Brady, E. M., Holt, S. R., & Welt, B. (2003). PEER TEACHING IN LIFELONG LEARNING INSTITUTES. Educational Gerontology, 29(10), 851–868. doi:10.1080/716100364 ↩︎

  6. Valerie Bang-Jensen. (1995) Hands-On and First-Hand Experiences in The Context of Reading and Language Arts. Language Arts, Vol. 72, No. 5, Teachers and Students in Classrooms: New Roles, New Relationships (September 1995), pp. 352-358 ↩︎

  7. http://p3g.unm.ac.id/phocadownload/Instrumen_p2013/instrumen%20penilaian%20peer%20teaching.pdf ↩︎

  8. Uztosun, M. S. (2018). Professional competences to teach English at primary schools in Turkey: a Delphi study. European Journal of Teacher Education, 41(4), 549–565. doi:10.1080/02619768.2018.1472569 ↩︎